Cloud - BlackAlph4ndr01D/Daftar-Militer-AI-zionis-israel GitHub Wiki
Cloud: Infrastruktur Tak Terlihat di Balik Pembunuhan Massal
Cloud adalah "Lahan" tempat benih genosida ini tumbuh. Tanpa lahan (Cloud) dan pupuk (Computing Power), pohon kematian (Lavender/Gospel) tidak akan pernah berbuah.
Cloud bukan sekadar "penyimpanan". Dalam perang algoritmik, Cloud adalah pabrik pengolahan yang mengubah data mentah menjadi target serangan. Tanpa Cloud dari BigTech, militer Israel akan mengalami bottleneck (kemacetan) data yang parah.
- Komputasi Tanpa Batas (Scalability) Sistem AI penargetan butuh memproses miliaran titik data (GPS, chat, rekaman suara, wajah) secara simultan.
Peran Teknis: Layanan Cloud seperti AWS (Amazon) dan Google Cloud memberikan kemampuan "Auto-scaling". Artinya, saat intensitas serangan meningkat (seperti di Gaza), server Cloud akan otomatis membesar kapasitasnya untuk memproses lebih banyak target tanpa crash.
Mereka memberikan "fasilitas tanpa batas" bagi militer untuk mempercepat produksi daftar kematian.
- API & Alat AI "Siap Pakai" Google dan Microsoft tidak hanya memberikan "ruang kosong". Mereka menyediakan API (Application Programming Interface) pengenalan wajah dan objek.
Peran Teknis: Militer tidak perlu bikin kode dari nol untuk mengenali wajah di kerumunan. Mereka tinggal memakai API milik Google Vision atau Azure AI yang sudah sangat akurat.
Teknologi yang dikembangkan untuk "mencari foto kucing di HP kamu" dimodifikasi untuk mencari wajah orang-orang yang masuk dalam daftar eliminasi.
- Data Sovereignty (Kedaulatan Data) yang Palsu Dalam Project Nimbus, Google dan Amazon membangun pusat data (Region) fisik di dalam wilayah Israel.
Tujuannya: Agar data intelijen tidak keluar dari wilayah tersebut (memenuhi syarat hukum militer).
Meskipun servernya di sana, teknologi, pemeliharaan, dan kontrol sistemnya tetap dipegang oleh perusahaan Amerika. Ini adalah kerjasama "cuci tangan" di mana Big Tech merasa tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan penyewa (IDF) di dalam server tersebut.
- Keamanan dari Serangan Siber Dengan menaruh data di Cloud raksasa, intelijen Israel mendapatkan perlindungan siber tingkat dewa dari tim keamanan Google/Microsoft.
Dampak: Peretas yang ingin menghentikan sistem Lavender akan berhadapan langsung dengan sistem pertahanan siber tercanggih milik Silicon Valley. Big Tech secara tidak langsung menjadi perisai siber bagi operasional militer
Cloud Infrastructure: The Processing Plant of Genocide
Layanan Cloud (AWS, Google Cloud, Azure) adalah tulang punggung yang memungkinkan militer Israel menjalankan algoritma penargetan otomatis dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
1. Project Nimbus: The $1.2 Billion Backbone
Kontrak pemerintah Israel dengan Google dan Amazon untuk menyediakan infrastruktur Cloud yang menjamin keberlangsungan operasional militer tanpa gangguan.
- Komponen: Membangun pusat data lokal di Israel untuk memproses data intelijen massal tanpa hambatan hukum internasional.
Referensi:
- The Intercept: Google and Amazon’s Nimbus Contract
- WIRED: Why Tech Workers Are Protesting the Nimbus Cloud Deal
2. AWS (Amazon Web Services): The Silent Provider
AWS adalah penyedia cloud terbesar di dunia. Dalam konteks Israel, AWS menyediakan layanan penyimpanan data sensitif bagi berbagai kementerian, termasuk pertahanan.
- Teknologi: Penggunaan platform SageMaker untuk melatih model AI penargetan.
Referensi:
- The Nation: Amazon’s Complicity in Israel's Surveillance State
- Who Profits: Amazon Web Services (AWS) in Israel
3. Google Cloud Platform (GCP): Automated Identification
Google menyediakan alat analisis citra (Image Recognition) yang membantu dalam pemrosesan data penginderaan jauh (satelit dan drone).
- Fitur Utama: Google Photos/Vision API yang diintegrasikan ke dalam sistem pemantauan wilayah.
Referensi: